Tibatiba salah seorang dari kumpulan remaja itu berpaling dan menyepak bola itu ke arah Pakcik Man. Dia menyepak dengan begitu tinggi sekali. Bola itu jatuh ke lantai tak berapa jauh dari tempat Pakcik Man berdiri. Pakcik Man hairan apabila bola itu jatuh, ia tidak melantun semula. Dan bunyi bola itu jatuh agak pelik seperti ada bunyi air
Sumber gambar Aku tidak mengira kejadian itu akan membekas dan berpengaruh buruk buat pergaulanku. Aku masih berusia 12 tahun kala itu. Di Minggu sore, seperti biasa, teman-teman sepermainanku menjeputku untuk bermain sepak bola. “Anak-Anak yang lain sudah kumpul ya?” teriakku dari depan pintu rumah kepada teman-temanku yang sedari tadi memanggil namaku di depan pagar. “Sudah Gus, tinggal nunggu kamu saja!” Ardian berkata cukup keras, namun tidak seperti berteriak, mewakili kumpulan anak-anak lain tanpa diminta. “Tunggu 5 menit kalau begitu.” Setelah itu aku masuk ke rumah dan berpamitan pada ibu. Kami kemudian menuju lapangan sepak bola. Lapangan yang kami gunakan untuk bermain bola adalah halaman rumah yang luas milik tetangga di kampung. Ada dua pohon mangga berukuran cukup besar dan satu pohon mengkudu di tengah lapangan. Tetapi itu bukan masalah besar bagi anak-anak kampung seperti kami. Gawangnya berupa dua batu bata. Seseorang diantara kami mengukur gawang dengan langkah kaki agar lebar kedua gawang sama lebarnya, kemudian memberi sebuah batu bata bekas yang bisa dengan mudah ditemukan di sekitar kampung di masing-masing ujungnya. Paling-Paling bagian yang sering bikin ribut adalah ketika bola melintas tepat di atas batu bata. Anak-Anak akan berdebat apakah itu termasuk gol atau keluar. Bahkan argumen seperti berandai-andai bata itu adalah gawang, tentu bola akan mengenai tiang dan masuk pun adalah hal yang lumrah. Ketika aku, Ardian, dan 3 teman lainnya datang ke lapangan, sudah ada beberapa anak di lapangan. Salah satunya membawa bola plastik seharga Rp Tak lama kemudian, kami membagi tim. Sekalipun saat itu ada 13 anak, bukan masalah seandainya nanti tim yang terbentuk terdiri dari satu tim dengan 6 orang melawan satu tim dengan 7 orang. Kami hanya bersenang-senang bersama saja. Dan berteman baik. Jika cerdik teman berunding, jika bodoh disuruh diarah. “Agus ikut timku” pinta Andi. “Harusnya ikut timku biar imbang. Jumlah tim kaliankan sudah lebih satu orang.” Ardian tidak mau mengalah. Mereka bertengkar memperebutkanku. Hal semacam ini cukup sering terjadi mengingat aku jago bermain bola. Dan meski kami tidak pernah mempersoalkan menang atau kalah, tetapi jelas setiap anak ingin memenangkan pertandingan. Akhirnya kedua tim melakukan suit, pemenangnya akan mendapatkan aku sebagai salah satu bagian dari timnya. Ternyata Andi yang menang suit dan aku pun segera menuju ke daerahku. Tak lama kemudian, permainan pun di mulai. Jangan bandingkan permainan kami seperti sepak bola di televisi, mengingat lapangannya tidak seluas lapangan sepak bola resmi, kami tidak perlu bermain strategi. Setiap anak bebas menyerang dan bertahan. Tidak ada aturan. Bahkan kiper pun terkadang ikut maju. Tidak ada tendangan pojok karena kami tidak mengenalnya. Jika bola keluar di sisi gawang, sekalipun pemain terakhir adalah pemilik daerah tersebut, tetap saja menjadi bola mati bagi kiper. Juga jarang terjadi lemparan ke dalam karena ada tembok pembatas sehingga bola tidak keluar. Kecuali bola keluar ke jalan di mana kendaraan berlalu lalang, atau terlalu melebar jauh dari posisi gawang, baru terjadi lemparan ke dalam. Situasinya sedang sangat bagus bagiku. Aku sudah mencetak 4 gol dan timku memimpin dengan kedudukan sudah 7-4. Namun, itulah awal dari mimpi burukku. Ketika bola keluar terlalu jauh dan tersangkut di semak-semak, aku terlalu bersemangat berlari mengambil bola. Dan ketika aku melangkahkan kaki ke dalam semak, aku langsung berteriak. Aku terkena pecahan mangkok yang dibuang di semak-semak, siapa pun orang yang melakukannya, kuharap ia akan mengalami apa yang kurasakan. Darah mengalir dengan deras dari telapak kakiku. Seorang teman dengan sigap berlari ke rumahku dan memanggil ibuku. Tak lama kemudian, kakiku di balut kain bekas kaos, kemudian dengan naik becak ibu membawaku ke rumah sakit. ****** Aku menyalahkan diri sendiri secara terus menerus karena nilai ujian nasionalku jelek, kendati pun tetap lulus. Dan pada akhirnya, aku mulai membenci sepak bola. Sejak pulang dari rumah sakit, aku jadi sering sakit demam. Itu membuatku jarang masuk sekolah, padahal saat itu hampir ujian. Bahkan ketika ujian berlangsung, kakiku masih nyeri dan tidak bisa berkonsentrasi. Bapak memarahiku habis-habisan, “Sudah tahu mau ujian malah bermain terus. Sudah begitu, sampai kena beling dan sakit-sakitan.” Dan rentetan kemarahan lain ketika kutunjukkan nilai ujianku. Sejak saat itu, aku tidak lagi bermain bola. Beberapa teman di kampungku mencoba memaksaku ikut bermain bola, tetapi aku tetap teguh pada pendirianku. Anak SMP dan SMA biasanya bermain di lapangan yang sesungguhnya tak jauh dari kampung secara rutin, meski ada beberapa aturan yang dilanggar, tetapi sudah mirip pemain bola pro. Dan aku tidak pernah ikut berpartisipasi. Ketika berkumpul seusai maghrib di pos desa, tiba-tiba ada yang bercanda menyebutku “bencong” karena tidak mau bermain bola. Mereka tidak pernah tahu kebencianku dengan sepak bola sehingga aku tidak peduli ejekan mereka pada awalnya. Namun, intensitas ejekan semakin menjadi dan aku merasa bagai alu sesudah menumbuk dicampakkan. Aku pun sedikit demi sedikit menghindar dan pada akhirnya tidak lagi bergaul dengan anak-anak di kampungku. Di sekolah, hal yang sama terjadi. Bukan hal yang aneh, di kelas ada anak dari kampungku. Dan ketika jam olahraga, ketika aku menolak untuk ikut bermain, mantan teman sekampungku mulai mengataiku dan diikuti anak-anak yang lain. Sejak saat itu, aku jadi pendiam dan lebih suka membaca buku atau belajar pelajaran dari sekolah. Dan siapa mengira, gara-gara aku diledek habis-habisan karena tidak mau bermain bola, aku menjadi giat belajar. Ketika hasil ujian kelas 3 SMP diumumkan, aku mendapat posisi 5 besar dari seluruh siswa. Meski aku tidak heran karena 3 tahun terakhir aku selalu mendapat peringkat 3 besar di kelas. Semua karena aku benci sepak bola dan tidak punya banyak teman. TAMAT.
Bermainbola ditengah malam cerpen karangan: Source: bola.republika.co.id. Kami bermain pada sore hari, saat matahari tidak terlalu panas. Umumnya formasi pada permainan sepak bola. Pernah satu ketika sekitar tahun 90 an, ada kompetisi lokal yang para pemainnya banyak dari kalangan profesional, mereka para pemain yang. Tidak sedikit pemain
A. Sumber Cerita Iklan Ramadhan Mandiri. B. Unsur Intrinsik 1. Tema Raih Kemenangan Sejati dengan Keikhlasan. 2. Penokohan a. Amir Anak – anak, baik, suka menolong, suka memberi berbagi . b. Mas Andi Pemuda, baik, suka menolong, bersahaja, suka memberi, pengusaha. c. Pak Salman Orang tua, baik, suka berbagi. 3. Latar a. Kapan Sore, Malam, Pagi. b. Dimana Pasar, Jalan, Rumah, Masjid. C. Pokok – Pokok Cerita 1. Amir ingin membeli sajadah di Pasar. 2. Mas Andi melihat kesulitan yang dihadapi Amir. 3. Amir menolong Mas Andi yang dompetnya ketinggalan. 4. Amir membeli kolek di Pasar untuk berbuka puasa. 5. Amir pulang ke rumah untuk bertemu Pak Salman. 6. Amir bertemu Pak Salman di Jalan sedang takbiran. 7. Amir dan Pak Salman bertemu Mas Andi di Jalan. 8. Mas Andi memberikan sajadah kepada Amir. 9. Amir menerima sajadah yang diberikan oleh Mas Andi. 10. Amir memberikan sajadahnya kepada Pak Salman. 11. Amir dan Pak Salman menuju ke Masjid untuk melaksanakan Sholat Idul Fitri. 12. Pak Salman berbagi sajadahnya dengan anaknya. 13. Amir dan Pak Salman melaksanakan Sholat Idul Fitri di Masjid. D. Pengembangan Cerpen Raih Kemenangan Sejati dengan Keikhlasan Petang itu di Pasar ada seorang anak laki – laki yang bernama Amir. Ia ingin membeli sajadah untuk melaksanakan Sholat Idul Fitri. Sambil berjalan Amir menghampiri seorang penjual sajadah. Setelah sampai dipenjual sajadah. Amir melihat – lihat dan memilih – milih sajadah, yang menurut ia bagus. Setelah ia menemukan sajadah yang bagus dan tentu ingin membelinya. Ketika ia bertanya kepada penjual sajadah. “Bang ini sajadah berapa harganya ?” ucap Amir, sambil memegang sajadah. “Harganya 35 ribu Nak,” ucap penjual sajadah. “Uangnya cuman ada 11 ribu Bang, boleh nggak?” ucap Amir, sambil memegang uangnya. “Nggak boleh, cari tempat lain saja sana !” ucap penjual sajadah. “Iya, Bang,” ucap Amir, sambil mukanya sedikit kecewa. Ketika Amir mengalami kesulitan. Ada seorang pemuda yang bernama Mas Andi. Ia adalah seorang pengusaha. Mas Andi berada di dalam mobil melihat kesulitan yang sedang dihadapi Amir. Ia pun teringat pada waktu dompetnya ketinggalan ketika hujan yang sangat deras. Kemudian Amir menolong Mas Andi yang dompetnya ketinggalan. “Aduh dompetnya ketinggalan?” ucap Mas Andi, sambil mencari – cari disaku celananya dan sambil memegang payung. “Sini Mas pinjem payungnya, biar saya saja yang mengambilkan,” ucap Amir, sambil tersenyum dan seluruh badannya basah kuyub. “Iya sudah, iya terima kasih Nak,” ucap Mas Andi, sambil memberikan payungnya kepada Amir dan sambil tersenyum pula. Ketika Mas Andi teringat dengan kejadian dompetnya ketinggalan. Ia terus memperhatikan Amir. Setelah Amir pergi dari penjual sajadah, Mas Andi langsung membeli sajadah yang diinginkan oleh Amir. Setelah Amir tidak bisa membeli sajadah, sambil berjalan ia langsung mencari penjual kolek. Tak lama berjalan, Amir menemukan penjual kolek. Ia langsung membeli kolek untuk berbuka puasa. “Bang koleknya dua, berapa harganya?” ucap Amir, sambil memegang uangnya. “Harganya satu bungkus 2 ribu, jadi dua bungkus harganya 4 ribu Nak,” ucap penjual kolek, sambil memberikan koleknya kepada Amir. “Iya sudah, ini uangnya Bang,” ucap Amir, sambil menerima kolek. Setelah Amir membeli kolek di Pasar untuk berbuka puasa. Ia berjalan menuju ke rumah untuk bertemu orang tuanya. * * * Tak terasa lama berjalan, Amir bertemu orang tuanya yang bernama Pak Salman. Pak Salman sedang takbiran di Jalanan. Amir dan Pak Salman langsung berjalan pulang menuju ke rumah. Ketika Amir dan Pak Salman sedang berjalan. Bertemu Mas Andi yang waktu itu pernah ditolongin oleh Amir, untuk mengambilkan dompetnya yang ketinggalan pada saat hujan yang sangat deras. Mas Andi memberikan sajadah yang diinginkan oleh Amir. Ketika Amir ingin membelinya tapi uangnya kurang. “Ini buat kamu, Nak ?” ucap Mas Andi, sambil memegang sajadah dan menyodorkan sajadahnya kepada Amir. “Iya, terima kasih Mas,” ucap Amir, sambil tersenyum dan menerima sajadah yang dikasih oleh Mas Andi. “Ini buat Bapak ?” ucap Amir, sambil tersenyum. “Iya, Nak,” ucap Pak Salman, sambil tersenyum pula. * * * Keesokan harinya terdengar suara takbiran “Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar,” suara takbiran dikumandangkan. Amir dan Pak Salman langsung menuju Masjid untuk melaksanakan Sholat Idul Fitri. Setelah sampai di Masjid, Amir dan Pak Salman duduk dan Pak Salman berbagi sajadah dengan anaknya. Amir dan Pak Salman pun melaksanakan Sholat Idul Fitri dengan berjama’ah di Masjid. Cerpen"Kenangan Pada Sebuah Pertandingan" ini sendiri merupakan cerpen yang kembali mengingatkan kita, bahwa di balik sisi indah sepakbola, ada beberapa hal-hal getir dan ingatan yang menyesakkan yang selalu menolak untuk dilupakan.Sepak Bola dalam Sejumlah Cerpen Indonesia Erwin Setia Sebuah karya sastra tidak pernah muncul dari ruang hampa. Ia bisa datang dari imajinasi nan liar, perjalanan panjang sejarah suatu negeri, atau pengalaman pribadi seorang pengarang. Karya sastra mempengaruhi dan dipengaruhi oleh apa-apa yang ada di sekitarnya. Pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, umpamanya, banyak bermunculan karya-karya sastra bertopik revolusi. Demikian pula karya-karya sastra pada zaman itu memberi pengaruh yang bersifat revolusioner—sedikit maupun banyak—terhadap orang-orang yang membacanya. Dengan kata lain sastra menangkap gambaran sosial di mana ia berasal. Di Indonesia masa kini banyak hal berubah. Topik yang populer bergulir seiring waktu. Di antara banyak hal yang populer dan diakrabi rakyat Indonesia masa kini adalah olahraga, wabilkhusus sepak bola. Tayangan sepak bola dan berbagai pernak-pernik terkait olahraga tersebut digemari banyak orang. Namun, di balik popularitas sepak bola di negeri ini, bagaimanakah peran pengarang karya sastra terhadapnya? Secara umum, tema olahraga tidak banyak muncul dalam karya-karya sastra Indonesia. Sebagai topik utama maupun sub-topik, olahraga sedikit sekali mendapat tempat. Memang ada beberapa novel yang menjadikan olahraga sebagai tulang punggung cerita sebut saja Badminton Freak karya Stephanie Zen [badminton], Lovasket karya Luna Torashyngu [bola basket], dan Jalan Lain ke Tulehu karya Zen RS [sepak bola], tapi jumlahnya masih jauh dari cukup mengingat betapa populernya sejumlah olahraga di Indonesia. Dalam hal karya sastra yang membahas sepak bola, jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Ini memunculkan banyak pertanyaan. Apakah sepak bola tak cukup seksi untuk dijadikan bahan karya sastra? Ataukah para pengarang Indonesia tak cukup cakap menjadikan sepak bola sebagai dasar pembuatan karya sastra? Tentu perlu penelitian lebih lanjut soal sedikitnya porsi sepak bola dalam karya-karya sastra Indonesia. Di sini saya hanya ingin mengulas sedikit perihal beberapa cerita pendek jenis karya sastra yang paling mudah dicerna bagi para pembaca—sebab tidak sepanjang novel dan serumit puisi yang mengangkat tema sepak bola. Cerpen-cerpen yang saya maksud adalah “Matinya Seorang Pemain Sepak Bola” 1981 karya Seno Gumira Ajidarma, “Kenangan pada Sebuah Pertandingan” 2015 karya Sunlie Thomas Alexander, dan “Cerita-Cerita Ganjil di Lapangan Sepak Bola” 2022 karya Aliurridha. Memang masih ada cerpen-cerpen lain yang mengangkat tema sepak bola, tapi saya membatasi pembahasan atas tiga cerpen di atas karena cerpen-cerpen itu cukup memberikan gambaran kepada kita bagaimana potret sepak bola dalam karya-karya sastra—khususnya cerpen—Indonesia. Sepak Bola yang Tragis, Sepak Bola yang Nostalgis Dalam ranah penulisan cerpen, Seno Gumira Ajidarma tidak hanya piawai menciptakan cerita-cerita soal senja atau cerita-cerita kritik sosial yang merupakan pengejawantahan dari kredo “ketika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara”. Ia juga pandai mereka cerita bertema olahraga yang jarang diperhatikan penulis lain. Dalam cerpen “Matinya Seorang Pemain Sepak Bola”, Seno menyinggung banyak hal. Cerita tentang seorang pesepak bola bernama Sobrat yang tiba-tiba meninggal sesaat setelah mencetak gol bukan hanya berisi biografi ringkas pesepak bola yang mulanya dianggap tak berbakat itu. Cerpen itu juga menyuarakan soal idealisme seorang atlet, kegigihan orang biasa untuk mencapai cita-citanya sebagai pesepak bola di kala orang-orang meremehkannya. Yang menarik Seno secara blak-blakan menyindir masalah pengaturan skor yang marak di persepakbolaan Indonesia sejak lama. Di salah satu bagian cerita Sobrat didatangi oleh seseorang yang berusaha menyuapnya untuk sengaja mengalah. Namun Sobrat menolak suap itu dengan halus. “Saya menjadi tidak berharga ketika menentukan harga,” katanya. Dan Sobrat adalah orang yang sama yang pernah mengatakan kepada ibunya tentang alasan ia ingin jadi pesepak bola, “Bermain bola kita tidak boleh berpikir soal uang, harus ada dedikasi, harus idealis, biar tidak dibayar kita sumbangkan tenaga untuk bangsa Indonesia. Bermain bola karena uang, itu namanya pelacuran sport, hanya akan mengundang penyuap. Pokoknya hidupku akan kuabadikan untuk sepak bola Indonesia.” Sayangnya, idealisme dan kecintaan Sobrat terhadap sepak bola tak dapat membuat dirinya berumur panjang, apalagi abadi. Ia mati di usia 30 tahun, saat dirinya sedang berada di masa jaya dengan menjadi penyerang produktif. Ketika dirinya meninggal di tengah lapangan di hadapan ribuan penonton pun kematiannya tidak menjadi sesuatu yang spesial. Seperti kata Seno di akhir cerpen, “Begitu saja jantung itu berhenti berdetak. Begitu biasa. Seperti sebuah berita kematian, yang menyedihkan bagi seseorang, tapi tak berarti sama sekali bagi yang lain.” Karier sepak bola Sobrat adalah cerita yang tragis. Kehidupan dan kematiannya tak banyak dipedulikan orang sebagaimana umumnya kehidupan dan kematian atlet di negeri ini. Sementara itu, Sunlie Thomas Alexander menyajikan potret lain seputar persepakbolaan Indonesia dalam cerpen “Kenangan pada Sebuah Pertandingan”. Cerpen ini menggunakan sudut pandang tokoh seorang mantan pemain bola tarkam antar-kampung yang terpaksa harus datang lagi ke lapangan sepak bola lantaran anaknya yang bernama Riko merengek minta diajak menonton pertandingan sepak bola. Ia sebetulnya tidak mau lagi berdekat-dekat dengan sepak bola setelah kejadian yang dialaminya bertahun-tahun lampau. Waktu itu, dalam sebuah pertandingan di lapangan yang jelek, ia membela kesebelasan kampungnya dalam duel sengit melawan kampung tetangga. Nahas baginya, di akhir pertandingan ia terpeleset sehingga bola yang seharusnya ia jauhkan dari gawang malah masuk ke gawang timnya sendiri. Tim kampungnya pun kalah dan ia menjadi bulan-bulanan massa. Sunlie menggambarkan suasana selepas gol bunuh diri itu sebagai berikut “Keributan pecah di luar lapangan. Sorak-sorai suporter lawan seketika teredam oleh teriakan-teriakan marah. Sebagian penonton bubar berhamburan. Polisi dan petugas keamanan sama sekali tak berdaya ketika dengan beringas para pemuda kampungnya merangsek ke arah suporter lawan. Sebagian menyerbu masuk ke dalam lapangan. Belum juga sempat ia beranjak bangkit, ia merasa bagian belakang kepalanya dihantam benda keras.” Sejak peristiwa itulah sang tokoh utama dalam cerpen tersebut berhenti bermain bola. Sepak bola yang ia cintai menjadi sepak bola yang menyisakan trauma. Efek trauma itu pun terbawa terus sampai tahun-tahun selanjutnya, sampai ia memiliki seorang anak yang ternyata menyukai sepak bola dan mengajaknya untuk menonton pertandingan sepak bola. Pada akhirnya yang traumatis dan yang nostalgis pun bersatu. Trauma dan nostalgia ia rasakan lantaran sepak bola. Dan mungkin banyak orang yang juga merasakan hal sama terhadap sepak bola. Sepak Bola yang Humoris, Sepak Bola yang Mistis Berbeda dengan dua cerpen di atas, cerpen “Cerita-Cerita Ganjil di Lapangan Sepak Bola” karangan Aliurridha ditulis dengan membawa semangat lain. Tidak ada sesuatu yang tragis atau melankolis dalam cerpen ini. Yang ada adalah humor melimpah dan olok-olok di sana-sini. Cerpen “Cerita-Cerita Ganjil di Lapangan Sepak Bola” diawali dengan cerita tokoh aku yang mendapat undangan bermain bola dari teman lamanya bernama Rahmat. Cerita-cerita ganjil dan penuh komedi pun dimulai dari situ. Ada cerita tentang orang-orang yang percaya pada peran orang pinter’ terhadap jalannya sebuah pertandingan, cerita tentang pemain bola alim yang terpaksa percaya klenik demi kemenangan timnya, dan cerita tentang perjudian yang lekat dengan sepak bola—bahkan sepak bola kelas kampung! Aliurridha menjelentrehkan dengan apik realita sosial dalam persepakbolaan Indonesia melalui cerpen itu. Dalam cerpen tersebut pertandingan sepak bola yang dimaksud memang sepak bola kelas kampung, tapi sesungguhnya berbagai perkara yang disinggung dalam cerpen itu lazim terjadi pula di ranah sepak bola profesional. Misalnya soal perjudian dalam sepak bola. Meskipun perkembangan sepak bola semakin maju seiring dengan kian mutakhirnya teknologi, perjudian tak pernah benar-benar hilang, malah kian subur dan variatif bentuknya. Di sisi lain hal-hal mistis pun belum sepenuhnya enyah dari persepakbolaan kita. Nahasnya, perjudian dan klenik bisa tetap hidup di Indonesia, kendati persepakbolaan di Indonesia sedang mati. *** Tiga cerpen karangan Seno Gumira Ajidarma, Sunlie Thomas Alexander, dan Aliurridha di atas hanyalah secuplik potret sepak bola dalam cerpen-cerpen Indonesia. Sepak bola dalam cerpen-cerpen tersebut bisa maujud dalam bentuk yang tragis, nostalgis, maupun humoris. Bisa mengundang tangisan maupun tawa. Tentu masih banyak sisi-sisi lain dari sepak bola yang dapat dialihkan ke dalam bentuk karya sastra. Ada banyak hal yang belum dikulik, ada banyak detail yang perlu diberi ruang. *
Akupun segera masuk ke rumah dan mengambil bola, ketika melihat jam ternyata menunjukkan pukul 22.00. Aku pun segera keluar karena mereka semua sudah tidak sabar untuk bermain bola. Kami langsung menuju jalan raya, terlihat jalanan pada malam sepi. Kami langsung membuat gawang dengan benda seadanya.
CerpenTentang Sepak Bola. Cerpen bola monday, 5 december 2016. Hanya kerana dia tak pernah bagi ruang untuk aku menyendiri di tepi padang ni tengok orang main bola sepak. Kami bermain pada sore hari, saat matahari tidak terlalu panas. Source: kitabelajar.github.io. 27 februari 2022, 17:28:28 wib. "pulang kau, luis!" terkadang gracia
CerpenTentang Olahraga Sepak Bola. Berdasarkan buku sari kata bahasa indonesia legenda adalah cerita rakyat zaman dahulu yang nah itulah sekelumit pembahasan tentang legenda bahasa jawa serta beberapa kumpulan cerita rakyat berbahasa jawa. Pengertian, teknik dasar, dan manfaat. 25+ Inspirasi Keren Contoh Poster Olahraga Sepak Bola from satu ketika sekitar .